Gagal Dua Kali di Final, Atletico Madrid Trauma Dengar Lagu Liga Champion

Kegagalan Rojiblancos dua kali memboyong trofi meski sudah menembus final, berpengaruh besar untuk hal ini. Apalagi, dalam dua kesempatan itu, mereka berhadapan dengan tim yang sama, rival sekota, Real Madrid.
Pada final Liga Champion 2014, ketika Atletico Madrid pertama kalinya mencapai partai puncak setelah 1974, Rojiblancos harus kalah dari Real Madrid yang lebih berpengalaman. Sempat unggul lebih dahulu, Atletico terkulai lemas dengan skor 4-1. Selang dua tahun, kejadian lebih mengerikan lagi.
Atletico Madrid bisa menahan imbang Real Madrid 1-1 sampai babak perpanjangan waktu. Tapi dalam drama adu penalti, mereka harus mengakui keunggulan sang rival sekota. Padahal, para pemain yang tampil dapat dikatakan merupakan generasi emas Atletico; yang mungkin sulit mengulang prestasi serupa di kemudian hari.
Soal kegagalan ini, pelatih Diego Simeone pun buka-bukaan. Kepada Onda Cero ia menuturkan, Setiap kali saya mendengar hymne kompetisi (Liga Champions), saya merasakan sakit.

Bagi saya, (kekalahan di final yang digelar di) Milan adalah kegagalan. Bagi saya, kegagalan adalah tidak meraih tujuan; dan saya punya tujuan untuk memenangi Liga Champions. Dan tidak memenangi trofi tersebut, sangat melukai saya.
Diego Simeone sempat sangat terpukul atas kekalahan ini. Bahkan ia nyari saja melangkah mundur dari jabatan pelatih Atletico Madrid; sebelum mengurungkan niat beberapa saat berikutnya. Menurut El Cholo, pikirannya untuk meninggalkan Atletico, lahir dari keraguannya, masih bisakah memimpin tim tersebut di kemudian hari setelah luka di Milan.
Saya tahu musim berikutnya bakal sangat rumit (setelah kalah untuk kedua kalinya di final); dan pada saat itu, begitu kalah dalam drama adu penalti, saya tidak tahu apakah punya kekuatan untuk memimpin kelompok ini atau tidak.

lafontepizze.com bola online Sumber: Sidomi